BAB II
LANDASAN TEORI
2.1Pengertian Akuntansi Biaya dan Biaya
2.1.1Pengertian Akuntansi Biaya
Akuntansi adalah bidang khusus yang mencatat, menghitung, menganalisa dan mengawasi serta melaporkan pada manajemen tentang biaya produksi. Tujuan pokok akuntansi biaya dapat mencapai tujuan tersebut, biaya yang di keluarkan oleh perusahaan atau terjadi dalam perusahaan harus digolongkan atau di kelompokkan sehingga dapat di tentukan biaya per-unitnya.
Pengertian Akuntansi Biaya : “Proses pencatatan, pengolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya”. (Mulyadi, 1993, 6)
Tiga tujuan pokok proses akuntansi biaya :
1.Penentuan harga pokok persatuan produk.
2.Pengendalian produk.
3.Pengambilan keputusan.
Proses akuntansi biaya dapat di tujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai luar perusahaan untuk memenuhi tujuannya, akuntansi biaya mencatat, menggolongkan dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya dikumpulkan di sajikan adalah biaya yang telah terjadi di masa lalu atau biaya historis.
2.1.2Pengertian Biaya
Pengartian biaya dalam buku akuntansi biaya adalah : “Objek dari kagiatan akuntansi biaya. Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang di ukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu ”. (Mulyadi, 1993, 8).
Pengertian biaya dalam buku harga pokok I adalah : “Biaya yaitu pengorbanan yang secara ekonomis tidak dapat di hindarkan untuk memproduksi barang’’. (Soemita Adikoesoemah, 1982, 72).
Dari definisi tersebut yang termasuk pengorbanan sumber daya ekonomis di bedakan berdasarkan :
Pengorbanan yang telah terjadi.
Pengorbanan yang mempunyai kemungkinan akan terjadi.
Pengertian dari pengorbanan itu sendiri dalam Teori Ilmu Biaya dan Neraca yaitu : “Pengorbanan-pengorbanan yang tidak dapat di hindarkan dan dapat di duga terlebih dahulu untuk tidak semuanya di anggap sehingga biaya, pengorbanan-pengorbanan ini hanya dapat di angap sebagai biaya-biaya jika hubungannya antara pangorbanan dan proses produksi dapat di tetapkan berapa besarnya pengorbanan-pengorbanan yang dapat di bedakan pada proses produksi”. (Soemita Adi koesoemah, 1977, 22).
Pengorbanan yang merupakan biaya yang di angap sebagai harga pokok yang di bebankan dalam kalkulasi harga pokok produksi sebagai berikut :
1.Pemakaian bahan mentah .
2.Pemakaian bahan mentah yang telah terjadi .
3.Pemakaian upah tenaga kerja.
4.Pemeliharaan mesin.
Dari pengertian-pengertian biaya tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa biaya adalah nilai dari kekayaan perusahaan (nilai pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang berguna untuk masa yang akan datang) atau sesuatu pengorbanan untuk mendapatkan suatu yang bermanfaat.
2.2Pengertian Produk Bersama, Produk Sekutu, dan Produk Sampingan
Produk bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan bersama atau serempak dengan menggunakan suatu macam atau beberapa macam bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama dan masukan (input) tersebut tidak dapat diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu (R.A. Supriyono, 1997, 238).
Produk bersama (Joint-product) adalah dua produk atau lebih yang diproduksi lebih secara serentak dengan serangkaian proses dengan proses gabungan. (Mulyadi, 1993, 358)
Produk sekutu adalah satu atau beberapa produk atau lebih yang diproduksi pada waktu yang bersamaan, tetapi tidak dari kegiatan pengolahan yang sama atau tidak berasal dari bahan baku yang sama.(Mulyadi, 1993, 359).
Produk sekutu (Co-product) adalah beberapa macam produk yang dihasilkan dalam waktu yang sama, tetapi tidak dari proses pengolahan yang sama atau tidak dari bahan baku yang sama. (R.A. Supriyono, 1997, 238).
Produk sampingan adalah satu atau beberapa produk yang bernilai total relatif kecil dan diproduksi secara berbarengan dengan produk yang mempunyai nilai lebih besar. (Matz, Acdolph and Usry, Milton, 1995, 132).
Produk sampingan (By-product) adalah produk yang diproduksi bersama-sama dengan produk lain tetapi mempunyai harga jual yang relatif lebih rendah dari produk lainnya. (Simangunsong, 1994, 107)
2.3Karakteristik Produk bersama, Produk Sampingan dan Produk Sekutu
Produk bersama dan produk sekutu memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
b.Harga jual produk bersama atau produk sekutu relatif tinggi bila dibandingkan dengan produk sampingan yang dihasilkan pada saat yang sama.
c.Dalam mengolah produk bersama tertentu produsen tidak dapat menghindarkan diri untuk menghasilkan semua jenis produk bersama.
Produk sampingan dapat digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya prduk tersebut dijual pada saat terpisah dari produk utama (Main-produk).
a.Produk sampingan yang dapat dijual setelah terpisah dari produk utama, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.
b.Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk utama.
2.4Metode Alokasi Biaya Bersama
Biaya bersama dapat dialokasikan kepada tiap-tiap produk bersama dengan menggunakan salah satu dari empat metode dibawah ini :
1.Metode Nilai Jual Relatif.
Metode ini banyak digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk bersama. Dasar pikiran metode ini adalah bahwa harga jual suatu produk merupakan perwujudan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut.
Rumus :
2.Metode Satuan Fisik.
Metode ini mencoba menentukan harga produk bersama sesuai dengan manfaat yang ditentukan oleh masing-masing produk akhir. Dalam metode ini biaya bersama dialokasikan kepada produk atas dasar koefisien fisik yaitu kuantitas bahan baku yang terdapat dalam masing-masing produk.
Rumus :
3.Metode Rata-rata Biaya Per-Satuan.
Metode ini hanya dapat digunakan bila produk bersama yang dihasilkan diukur dalam satuan yang sama. Pada umumnya metode ini digunakan oleh perusahaan yang menghasilkan beberapa macam produk yang sama dari satu proses bersama tetapi mutunya berlainan.
Rumus :
4.Metode Rata-rata Tertimbang.
Dalam metode ini, kuantitas produksi dikalikan dengan angka penimbang dan hasil kalinya baru pakai sebagai dasar alokasi. Penentuan angka penimbang untuk tiap-tiap produk didasarkan pada jumlah bahan yang dipakai, sulitnya pembuatan produk , waktu yang dikomsumsi dan pembedaan jenis tenaga kerja yang dipakai untuk jenis produk yang dihasilkan. Jika yang dipakai sebagai angka penimbang adalah harga jual produk maka metode alokasinya disebut metode nilai jual relatif.(Mulyadi, 1993, 360)
Rumus :
2.5Metode Penentuan Harga Jual
Keputusan manajemen untuk harga jual pada produknya yang profitable dan marketable adalah salah satu kebijaksanaan yang penting dalam manajemen perusahaan. Sedangkan harga jual sendiri merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi berhasil atau gagalnya usaha perusahaan.
Ada 4 metode penentuan harga jual yang umum dipergunakan, yaitu :
1.Gross Margin Pricing.
Metode penentuan harga jual dengan proses margin pricing pada umumya tepat digunakan oleh perusahaan ini tidak membuat sendiri produk yang dijual sehingga tidak banyak aktiva tetap.
Dalam metode ini, penentuan harga jual di lakukan dengan cara menentukan persentase tertentu (mark up ) diatas harga (cost) produk yang dibeli. Penentuan harga jual dengan metode ini penentuannya relatif mudah yaitu dengan menentukan cost barang yang dijual ditambah mark up yang diinginkan perusahaan.
Dirumuskan sebagai berikut :
2.Direct Cost Pricing
Penentuan harga jual dalam metode direct cost pricing didasarkan pada jumlah biaya variabel ditambah dengan persentase laba yang diinginkan. Metode ini umumnya digunakan pada perussahaan yang menjual produknya di pasar persaingan sempurna. Metode ini juga di kenal dengan “Marginal Income Pricing” karena hanya memperhitungkan biaya-biaya yang berhubungan secara proporsional dengan volume/penjualan sehingga menghasilkan marginal income.
Dirumuskan sebagai berikut :
3.Full Cost Pricing
Penentuan harga jual dengan metode ini hampir sama dengan penentuan harga jual dengan direct cost princing. Perbedaannya terletak pada dasar pembebanan costnya kalau dalam direct cost pricing hanya biaya-biaya variabel saja sebagai dasar perhitungan harga jual tetapi dalam metode ini semua jenis biaya dipakai sebagai dasar untuk menentukan harga jual. Jadi semua biaya untuk membuat produk tersebut dihitung dengan ditambah persentase laba yang diinginkan untuk menutup biaya operasi dan laba yang diinginkan.
Dirumuskan sebagai berikut :
4.Time and Material Pricing.
Dalam ini harga jual di tentukan berdasarkan tarif tertentu yang ditentukan dari upah langsung dan tarif lainnya dari bahan baku masing–masing. Tarif ini di jadikan satu di tambah jumlah tertentu dari biaya tak langsung serta laba yang diinginkan. Metode ini digunakan pada perusahaan jasa seperti reparasi mobil, percetakan, konveksi dan juga perusahaan profesional seperti kantor notaris, konsultan dan sebagianya. (Mas’ud Machfoedz,1991, 1252)
2.6Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijaksanaan Harga Jual
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan harga jual baik dipandang dari barang yang akan dijual atau pasarnya dan tak kalah pentingnya adalah biaya untuk membuat barang tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual antara lain :
1.Faktor Laba, meliputi :
a.Apakah pengembalian modal sudah mencukupi
b.Berapa laba yang di butuhkan untuk membayar deviden.
c.Berapa laba yang dibutuhkan untuk perluasan (ekspansi)
d.Berapa trend penjualan yang dinginkan.
2.Faktor Produk atau penjualan produk, meliputi :
a.Apakah volume penjualan tersebut betul-betul bisa direalisir.
b.Apakah ada diskriminasi harga.
c.Apakah ada kapasitas menganggur.
d.Apakah harga tersebut logis untuk diterapkan.
3.Faktor biaya dan produk, meliputi :
a.Apakah harga tersebut merupakan harga pertama.
b.Apakah penggunaan modal sudah efektif.
c.Apakah ada biaya bersama karena ada produk campuran
(biayanya menjadi satu untuk lebih dari satu produk).
4.Faktor dari luar perusahaan (konsumen), meliputi :
a.Siapa langganan yang akan dicapai, muda/mudi, orang tua, orang kaya,, orang sederhana dan sebagainya.
b.Apakah produknya di pasar yang homogen atau heterogen.
c.Persaingan tajam atau tidak.
(Mas’ud Machfoedz, 1991, 242)
2.7Biaya Bersama Dan Keputusan Manajemen
Setelah diuraikan diatas dengan berbagai alokasi biaya bersama kepada berbagai macam produk bersama, jelas tampak bahwa dasar yang dipakai untuk alokasi tidak menggambarkan aliran biaya bersama tersebut kedalam tiap-tiap jenis produk. Oleh karena itu tujuan alokasi biaya bersama adalah untuk penghitungan laba, agar dapat diketahui berapa kontribusi masing-masing produk bersama terhadap seluruh laba yang diperoleh perusahaan.
BAB I
PEDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Keberhasilan suatu negara tidak hanya diukur dari kemampuaan negara tersebut dalam memupuk dana dan memajukan industrinya.Kinerja pembangunan suatu negara disumbangkan oleh banyak faktor, antara lain : sumber daya alam , sumberdaya modal, sumberdaya teknologi, sumberdaya sarana dan prasarana dan sunber daya manusia. Diantara sumberdaya-sumberdaya diatas, sumberdaya manusia memiliki fungsi ganda,yaitu sebagai sumberdaya obyek yang dikelola,disisi lain sebagai subyek yang mengelola dan mengendalikan seluruh sumberdaya lainya untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan pada setiap aktivitas ekonomi.
Sumberdaya manusia pada tingkat manajerial memiliki jenjang hirarki kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri,sehingga mereka lebih membutuhkan rangsangan motivasi dalam bentuk immaterial. Sedangkan sumberdaya manusia pada tingkat operational memiliki jenjang kebutuhan yang cenderung pada kebutuhan fisik, sehingga mereka lebih membutuhkan rangsangan motivasi dalam bentuk material. Yaitu berbentuk upah, upah merupakan salah satu bentuk rangsangan material untuk memotivasi kerja sumberdaya manusia pada tingkat operational.
Maka dengan segala kemampuan yang terbatas penulis mengambil judul penulisan ilmiah ini : Evaluasi Efektifas Pengupahaan Terhadap Peningkatan Produktifitas Tenaga Kerja Pada CV.SATRIA ANGKARA.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya tersebut diatas dapat ditarik beberapa permasalahan yang diantaranya sebagai berikut :
1.Apakah pengupahan pada CV Satria angkara sudah baik dan memadai
2.Apakah upah yang diberikan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan
1.3Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan pengupahan ,sebagaimana telah diuraikan dalam latar belakang diatas, maka penulis hanya membatasi pada masalah apakah pemberian upah yang dilakukan CV Satria angkara akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja pada perusahaan tersebut.
1.4Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah ingin mengkaji sejauh mana pemberian upah yang dilakukan CV Satria angkara dalam rangka meningkatkan prodiktivitas tenaga kerja serta sejauh mana pemberian upah tersebut mampu mengakomodasi kebutuhan minimum tenaga kerja sebagai insan yang mempunyai kebutuhan hidup.
1.5Metode Penulisan
Dalam penulisan ilmiah ini,perolehan/pengumpulan data penulis lakukan dengan cara sebagai berikut :
1.Study Lapangan (Field Research)
Metode ini digunakan guna mendapatkan data primer yang dibutuhkan oleh penulis guna penyusunan penulisan ilmiah ini pada CV SATRIA ANGKARA.
2.Study Kepustakaan (Library Research)
Metode ini banyak digunakan penulis didalam menggumpulkan data sekunder yang mendukung data primer yang sudah ada,terutama dalam landasan teori penulisan ilmiah ini.
1.6Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran secara singkat tentang penulisan ilmiah ini,penulis akan menguraikan keterangan yang telah penulis peroleh menjadi bab penulisan yang antara lain adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini akan mengemukakan keseluruhan dasar penulisan ilmiah ini yang terdiri dari latar belakang masalah , batasan masalah , tujuan penulisan , metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan menjelaskan tentang pengertian upah, penyusunan upah, faktor yang mempengaruhi upah,pengertian produktivitas,pengukuran produktivitas.
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Pada bab ini menjelaskan tentang sejarah dan perkembangan perusahaan, struktur perusahaan,produk yang akan dihasilkan.
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini akan menjelaskan bagaimana pembahasan mengenai analisis pemberian upah pada CV SATRIA ANGKARA akan meningkatkan tingkat produktivitas tenaga kerja.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini penulis akan memberikan kesimpulan dan memberikan saran agar perusahaan tersebut dapat mencari solusi terbaik yang harus dilakukan agar upah kerja yang diberikan dapat memacu tingkat produktivitas tenaga kerja.
Pendekatan berorientasi objek
Pendekatan desain objek (OOD) yang berorientasi untuk membangun sistem informasi dari komponen standar atau objek yang dapat digunakan kembali. Pendekatan ini dapat disamakan dengan proses membangun sebuah mobil. Produsen mobil tidak menciptakan masing-masing model baru dari awal. Model baru sebenarnya dibangun dari komponen standar yang juga masuk ke model lainnya. Sebagai contoh, masing-masing model mobil yang diproduksi oleh produsen tertentu dapat menggunakan jenis mesin, gearbox, alternator, gardan belakang, radio, dan sebagainya yang sama. Beberapa komponen mobil akan industri produk standar yang digunakan oleh produsen lain. Hal-hal seperti seperti roda, ban, busi, dan lampu termasuk dalam kategori ini. Bahkan, sangat mungkin bahwa hanya komponen sebenarnya diciptakan dari awal untuk model mobil baru adalah bagian body.
Industri mobil beroperasi dalam mode untuk tetap kompetitif. Dengan menggunakan komponen standar, produsen mobil meminimalkan biaya produksi dan pemeliharaan. Pada saat yang sama, mereka bisa tetap responsif terhadap kebutuhan konsumen untuk produk baru dan mempertahankan fleksibilitas manufaktur dengan mencampur dan mencocokkan komponen sesuai spesifikasi pelanggan.
Konsep daur ulang adalah pusat pendekatan berorientasi objek untuk merancang sistem. Setelah dibuat, modul standar dapat digunakan dalam sistem lain dengan kebutuhan yang serupa. Idealnya, sistem organisasi yang profesional akan membuat perpustakaan (persediaan)/ modul yang dapat digunakan oleh para desainer sistem lain dalam perusahaan. Manfaat dari pendekatan ini termasuk mengurangi waktu dan biaya untuk pengembangan, pemeliharaan, pengujian. dukungan pemakai meningkat dan fleksibilitas dalam proses pembangunan.
Metodologi OOD paling sering juga dikaitkan dengan pendekatan iteravite untuk merancang tahapan daripada air terjun, atau proyek lengkap, pendekatan. pendekatan air terjun mengambil proyek lengkap dan membagi proses ke fungsi proyek, seperti diuraikan dalam bab ini (analisis, desain, dll). pengembangan Iteratif menggunakan subset diskrit proyek (misalnya, modul) dan menyelesaikan seluruh siklus SDLC untuk pembangunan yang sepotong proyek yang lebih besar. Hasilnya adalah aplikasi subset fungsi keseluruhan proyek. fungsi tertentu seperti pelatihan dilakukan pada akhir dari semua himpunan bagian dan iterasi. Komunitas OO hampir secara eksklusif menggunakan pendekatan iteratif. Misalnya, satu UML dan OO pakar Martin Fowler berkata, "Anda harus menggunakan perkembangan berulang hanya pada proyek jika anda ingin sukses."
Peranan Auditor Dalam Perancangan Sistem Konseptual
Auditor adalah stakeholder dalam semua sistem keuangan dan, dengan demikian, memiliki kepentingan dalam tahap desain konseptual dari sistem. The kemampuan untuk diaudit dari suatu sistem depens di bagian atas karakteristik desain. Beberapa teknik audit komputer memerlukan sistem yang akan dirancang dengan fitur audit khusus yang merupakan bagian integral sistem. Fitur audit ini harus ditentukan pada tahap desain konseptual.
Listen
Read phonetically
Sistem Evaluasi dan Seleksi
Tahap IV
Tahap berikutnya dalam SDLC adalah prosedur untuk memilih satu sistem dari set desain konseptual alternatif yang akan masuk ke tahap desain rinci. Tahap sistem evaluasi dan seleksi adalah proses optimasi yang berusaha untuk mengidentifikasi sistem yang terbaik. Keputusan ini merupakan titik kritis dalam SDLC. Pada titik ini, ada banyak ketidakpastian tentang sistem, dan keputusan yang buruk di sini dapat menjadi bencana. Tujuan dari evaluasi formal dan prosedur pemilihan adalah proses pengambilan keputusan dengan demikian dapat mengurangi baik ketidakpastian dan risiko membuat keputusan yang buruk. Proses evaluasi dan seleksi melibatkan dua langkah:
1. Lakukan studi kelayakan rinci
2. Lakukan analisis biaya manfaat
Lakukan studi kelayakan rinci
Aspek-aspek pembahasan berikut kelayakan proyek yang perlu dipertimbangkan. Setiap proyek bersaing akan dinilai dengan cara yang sama. Proyek ini dianggap layak tersebut kemudian dibandingkan berdasarkan biaya manfaat. Sistem yang dipilih kemudian akan maju ke tahap rincian desain.
Kelayakan Teknis. Kelayakan teknis berkaitan dengan apakah sistem dapat dikembangkan berdasarkan teknologi yang ada atau jika teknologi baru diperlukan. Sebagai proposisi umum, teknologi di pasar jauh di depan kemampuan perusahaan yang paling 'untuk menerapkannya. Oleh karena itu, dari sudut pandang ketersediaan, kelayakan teknis biasanya tidak menjadi masalah. Bagi kebanyakan perusahaan, persoalan sesungguhnya adalah keinginan mereka dan kemampuan untuk menerapkan teknologi yang tersedia. Mengingat bahwa teknologi adalah dasar fisik untuk sebagian besar fitur desain sistem, aspek ini menitik beratkan pada kelayakan keseluruhan dari sistem bersaing.
Hukum kelayakan. Hukum kelayakan mengidentifikasi konflik antara sistem konseptual dan kemampuan perusahaan untuk tanggung jawab debit hukumnya. Dalam bab-bab sebelumnya, kita telah mempelajari kebutuhan untuk memenuhi persyaratan pengendalian yang diatur dalam Foreign Corrupt Practices Act tahun 1977 dan SAS 78. Selain itu, banyak peraturan dan undang-undang dengan menangani invasi terhadap privasi dan kerahasiaan dari informasi yang tersimpan. Pembuat keputusan harus tertentu, sistem yang diusulkan gagal dalam semua batas-batas hukum.
Kelayakan Operasional. kelayakan operasional menunjukkan tingkat kompatibilitas antara prosedur yang ada perusahaan dan keterampilan personil serta persyaratan operasional sistem baru. Menerapkan sistem baru mungkin memerlukan mengadopsi prosedur baru dan pelatihan kembali personel operasi. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, bisakah perubahan prosedural yang memadai dilakukan, personel yang cukup dilatih ulang, dan apakah keterampilan baru yang diperoleh untuk membuat sistem operasional layak?...
Kelayakan Jadwal
Kelayakan Jadwal berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk melaksanakan proyek tersebut dalam waktu yang dapat diterima. Ini dampak faktor kelayakan baik lingkup proyek dan apakah itu akan dikembangkan di rumah atau dibeli dari vendor perangkat lunak. Jika proyek, sebagai konseptual dibayangkan, tidak dapat diproduksi secara internal oleh target waktu, kemudian desain, metode akuisisi, atau tanggal target yang harus diubah.
Melakukan analisis biaya manfaat
Analisis biaya manfaat membantu manajemen menentukan apakah (dan seberapa banyak) manfaat yang diterima dari sistem yang diusulkan akan melebihi perkiraan biaya. Teknik ini sering digunakan untuk memperkirakan nilai keuangan yang diharapkan dari investasi bisnis. Namun, dalam kasus ini, investasi adalah sebuah sistem informasi, biaya dan manfaat lebih sulit untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi dibandingkan dengan proyek-proyek modal tradisional. Walaupun tidak sempurna untuk pengaturan ini, analisis biaya manfaat dikombinasikan dengan faktor kelayakan adalah alat yang berguna untuk membandingkan desain sistem bersaing.
Ada tiga langkah dalam penerapan analisis biaya manfaat, mengidentifikasi biaya, mengidentifikasi manfaat, dan membandingkan biaya dan manfaat, serta membandingkan biaya dan manfaat. Kami masing-masing membahas langkah-langkah di bawah ini.
Identifikasi Biaya. Salah satu metode untuk mengidentifikasi biaya adalah untuk membagi mereka menjadi dua kategori: biaya sekaligus dan biaya berulang. Biaya sekaligus mencakup investasi awal untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem. Biaya Operasional meliputi operasi dan pemeliharaan biaya yang muncul kembali di kehidupan sistem. Tabel 4-1 menunjukkan pengelompokan khas biaya sekaligus dan biaya berulang.
Biaya sekaligus adalah sebagai berikut:
Hardware akuisisi. Biaya ini termasuk biaya mainframe, mini komputer, mikro komputer, dan peralatan perangkat, seperti drive tape dan paket disk. Angka-angka ini biaya dapat diperoleh dari vendor.
Persiapan lokasi. Biaya ini meliputi biaya yang sering diabaikan seperti modifikasi bangunan (misalnya, menambahkan penyejuk udara atau membuat perubahan struktural), peralatan instalasi (yang mungkin termasuk penggunaan alat berat)dan lain-lain.
Pasar keuangan syariah lahir dengan konsep dan filosofi yang berbeda dengan pasar keuangan konvensional. Bank syariah lahir dengan konsep dan filosofi interest fee, yang melarang penerapan bunga dalam semua transaksi perbankan karena termasuk kategori riba.
Lembaga keuangan konvensional dan lembaga keuangan syariah memiliki macam dan bentuk yang sama, yaitu lembaga keuangan bank syariahdan lembaga keuangan bukan bank syariah. Perbedaan antara keduanya adalah dalam hal yang sangat prinsipil dan substansial, yakni prinsip syariah yang menjadi landasan keuangan atau perbankan syariah.
Kedudukan bank syariah dalam hubungannya dengan nasabah adalah sebagai mitra investor dan pedagang atau pengusaha, sedangkan pada lembaga keuangan dan non-bank syariah sebagai kreditor dan debitor.
Perbankan syariah di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Secara instiitusional, jumlah bank syariah pada tahun 2000 terdiri dari 2 BUS (Bank Umum Syariah) dan 3 UUS (Unit Usaha Syariah) dan menjadi 3 BUS 19 UUS pada akhir tahun 2005. Perkembangan dari segi jaringan kantor, pada tahun 2000 terdapat 140 kantor, dan bertambah menjadi 550 kantor pada akhir 2005. Belum lagi total asset perbankan syariah pada tahun2005 mencapai Rp.20,88 triliun yang sebelumnya Rp.15,21 triliun pada tahun2004.(Statistic Perbankan Syariah Bank Indonesia,2005).
Pengertian Lembaga Keuangan Syariah
Lembaga keuangan syariah merupakan badan usaha atau institusi yang kekayaannya terutama dalam bentuk asset-aset keuangan maupun non-financial atau asset riil berlandaskan konsep syariah.
Lembaga keuangan syariah dapat dibedakan menjadi dua yaitu: Lembaga keuangan depositori syariah yang disebut lembaga keuangan bank syariah dan lembaga keuangan non depositori yang disebut lembaga keuangan syariah bukan bank. Peranan kedua lembaga keuangan syariah tersebut adalah sebagai perantara keuangan (financial intermediation) antara yang pihak kelebihan dana atau unit surplus (ultimate lenders) dan pihak yang kekurangan dana atau unit deficit (ultimate borrowers).
Lembaga keuangan depositori (bank) syariah menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito), misalnya: tabungan (wadi’ah,mudharabah), deposito berjangka (mudharabah), dan giro (wadi’ah) yang diterima dari penabung (surplus unit).
Lembaga keuangan syariah non depositori dikelompokkan menjadi tiga antara lain bersifat kontraktual yaitu menarik dana dari masyarakat dengan menawarkan dana untukl memproteksi penabung terhadap resiko ketidakpastian. Berikutnya adalah lembaga keuangan syariah yang kegiatannya melakukan investasi di pasar uang syariah dan pasar modal syariah,seperti reksadana syariah.
SISTEM KEUANGAN SYARIAH
System keuangan merupakan salah satu unsur yang paling penting dari setiap ekonomi suatu Negara. Selain itu, system keuangan memberikan jasa-jasa yang sangat dibutuhkan dalam system ekonomi modern.
Pada prinsipnya, system keuangan di Indonesia dibagi menjadi 3 sistem, yaitu:
1.Sistem moneter; tercakup bank dan lembaga-lembaga yang ikut menciptakan uang giral.
2.System perbankan
3.System lembaga keuangan bukan bank
Pemegang otoritas moneter yaitu Departemen Keuangan dan Bank Indonesia yang memiliki fungsi sebagai berikut: mengeluarkan uang kertas dan logam, menciptakan uang primer (reserve money), mengawasi system moneter dan mengelola cadangan devisa.
Fungsi system keuangan adalah sebagai berikut :
1.Menyediakan mekanisme pembayaran baik dalam bentuk uang ,rekening koran dan alat transaksi lain
2.Menyediakan kredit
3.Penciptaan uang
4.Sarana Tabungan
Peranan Lembaga Keuangan Syariah dalam Proses Intermediasi
Proses intermediasi dilakukan oleh lembaga keuangan syariah dengan cara membeli sekuritas primer (saham syariah,obligasi syariah dan sebagainya) yang diterbitkan oleh unit defisit, dan dalam waktu yang sama lembaga keuangan mengeluarkan sekuritas sekunder (giro-wadi’ah-, tabungan, -wadi’ah-, mudharabah, deposito berjangka –mudharabah, reksadana syariah dan sebagainya kepada unit surplus.
Sebagai lembaga Intermediasi, lembaga keuangan syariah memiliki peran yang sangat strategis, antara lain:
1.Pengalihan aset. Bank syariah dan lembaga keuangan syariah bukan bank akan memberikan pinjaman kepada pihak yang membutuhkan dana dalam jangka tertentu yang telah disepakati.
2.Likiuditas. Berhubungan dengan kemampuan memperoleh uang tunai pada saat dibutuhkan
3.Realokasi pendapatan. Banyak individu menyisihkan dan merealokasikan pendapatannya untuk persiapan menghadapi waktu yang akan datang
4.Transaksi. Lembaga keuangan syariah memberikan berbagai kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi barang dan jasa
5.Efisiensi. Lembaga keuangan syariah dapat menurunkan by transaksi dengan jangkauan pelayanannya dan juga memperlancar serta mempertemukan pihak-pihak yang saling membutuhkan.
Tujuan berdirinya lembaga keuangan syariah adalah :
1.Mengembangkan lembaga keuangan syariah (bank dan non bank syariah) yang sehat berdasarkan efisiensi dan keadilan, serta mampu meningkatkan partisipasi masyarakat banyak.
2.Meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat Bangsa Indonesia, sehingga dapat mengurangi kesenjangan sosial ekonomi.
3.meningkatkan partisipasi masyarakat banyak dalam proses pembangunan, terutama dalam bidang ekonomi keuangan yang selama ini diketahui masih banyak masyarakat yang enggan berhubungan dengan bank karena menganggap bahwa bunga adalah riba.
Paek-load menyebabkan masalah kemacetan dan kesalahan pengolahan. dengan pengalaman, analis dapat membayangkan cara yang lebih baik melakukan tugas.
wawancara pribadi. wawancara adalah metode untuk penggalian fakta-fakta mengenai sistem saat ini dan persepsi pengguna tentang persyaratan untuk sistem yang baru. instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan fakta-fakta ini mungkin pertanyaan terbuka atau kuesioner formal
pertanyaan terbuka memungkinkan pengguna untuk menguraikan masalah saat mereka melihat dan memberikan saran dan rekomendasi. jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini cenderung sulit untuk menganalisa, tetapi mereka memberikan analis merasakan ruang lingkup analis problem.the dalam jenis wawancara harus menjadi pendengar yang baik dan mampu fokus pada fakta-fakta penting. contoh pertanyaan terbuka pada tanggal tersebut adalah: "apa yang Anda pikirkan adalah masalah utama dengan sistem order penjualan?" dan "Bagaimana mungkin sistem diperbaiki?"
kuesioner digunakan untuk bertanya lebih spesifik, pertanyaan rinci dan untuk membatasi pengguna "respon. ini adalah teknik yang baik untuk mengumpulkan fakta-fakta obyektif tentang sifat prosedur khusus, volume transaktions diproses, sumber data, pengguna laporan, dan kontrol isu.
Simak
Baca secara fonetik
meninjau dokumen kunci. dokumen organisasi lain adalah sumber fakta tentang sistem yang disurvei. contoh ini meliputi:
mengikuti tahap pengumpulan fakta, yang analystformally dokumen nya tayangan dan pemahaman tentang sistem. ini akan mengambil bentuk catatan, diagram alur sistem, dan diagram aliran data.
PricewaterhouseCoopers (PwC) adalah kantor jasa professional terbesar di dunia saat ini. Kantor ini dibentuk pada tahun 1998 dari penggabungan usaha antara Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand. PwC adalah yang terbesar di antara the Big Four auditors, yang lainnya adalah Deloitte, Ernst & Young dan KPMG.
Penghasilan gabungan PricewaterhouseCoopers di seluruh dunia mencapai 20.3 miliar dolar Amerika Serikat untuk tahun fiskal 2005, dan mempekerjakan lebih dari 130.000 profesional di 148 negara.
Price Waterhouse
Samuel Price, seorang akuntan, mulai praktek di London pada tahun 1849. Dalam tahun 1865 Price membuat persekutuan dengan William Holyland dan Edwin Waterhouse. Sejak tahun 1874 kantor ini kemudian dikenal dengan nama Price, Waterhouse & Co. Holyland akhirnya meninggalkan persekutuan itu dan kemudian huruf '& Co' dan koma dihilangkan dari nama kantor tersebut. Di akhir tahun 1800-an, Price Waterhouse mendapat pengakuan sebagai suatu kantor akuntan publik tepercaya. Dengan berkembangnya perdagangan antara Britania Raya dan Amerika Serikat, Price Waterhouse kemudian membuka kantornya di New York dalam tahun 1890, yang kemudian kantor di Amerika ini berkembang dengan sangat pesatnya. Kantor asalnya di Inggris juga membuka banyak kantor di negara-negara Persemakmuran Inggris. Setiap kali mendirikan persekutuan terpisah di setiap negara, setiap sekutu yang diberikan insentif yang baik untuk meluaskan praktek lokalnya. Jadi kegiatan PW di seluruh dunia merupakan suatu gabungan kantor-kantor lokal yang berkembang secara alamiah dibandingkan dengan merupakan hasil dari penggabungan usaha internasional.
[sunting] Coopers & Lybrand
Seperti PW, Coopers & Lybrand juga didirikan dalam abad kesembilanbelas. Dalam tahun 1854 William Cooper mulai berpraktek di London, yang tujuh tahun kemudian berganti nama menjadi Cooper Brothers saat ketiga saudaranya bergabung. Di Amerika Serikat dalam tahun 1898 Robert H. Montgomery, William M. Lybrand, Adam A. Ross Jr. dan kakaknya T. Edward Ross mendirikan Lybrand, Ross Brothers and Montgomery. Coopers & Lybrand merupakan hasil penggabungan antara Cooper Brothers & Co; Lybrand, Ross Bros & Montgomery dan sebuah kantor dari Kanada McDonald, Currie and Co. dalam tahun 1957. Dalam tahun 1990 Coopers & Lybrand bergabung dengan Deloitte Haskins & Sells di Britania Raya, namun sebagian dari Deloitte bergabung dengan Touche Ross dan membentuk Deloitte Touche Tohmatsu.
Untuk menambah pembentukan kantor di berbagai ibukota utama dunia, seringkali PW atau Cooper menggabungkan diri dengan kantor akuntan lokal. Dengan cara ini terbentuklah kantor-kantor di tiap negara dan menggelembungkan jumlah kantornya agar bisa menawarkan jasanya dimanapun mereka berada. Pertumbuhan juga dirasakan dengan bertambahnya kebutuhan audit khususnya setelah Depresi Hebat dalam tahun 1920-an dan 1930-an dan juga dengan bertambah kompleksnya perpajakan.
Sebagai kelanjutan usahanya dalam memperoleh skala ekonomis, PW dan Arthur Andersen pernah membicarakan suatu penggabungan dalam tahun 1989, namun akhirnya negosiasi ini gagal terutama karena adanya konflik kepentingan contohnya keterkaitan bisnis Andersen dengan IBM padahal PW mengaudit IBM. Dalam tahun 1998 Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand bergabung dan membentuk PricewaterhouseCoopers. Tahun berikutnya, pembicaraan untuk menggabungkan PwC dengan Grant Thornton gagal. Oleh karena berkurangnya jumlah kantor-kantor besar, sepertinya otoritas pengatur kompetisi akan sulit meluluskan ijin penggabungan usaha.
Bentuk hukum suatu persekutuan sangat berbeda dengan suatu perusahaan dan sebenarnya secara global kantor ini merupakan gabungan dari kantor-kantor anggota yang mempunyai otonomi sendiri dalam masing-masing jurisdiksi negaranya masing-masing. Rekan senior dari kantor-kantor anggota duduk dalam suatu jajaran direksi yang merupakan payung organisasi yang dinamakan PricewaterhouseCoopers International Limited, suatu perusahaan yang di Britania Raya yang melakukan koordinasi. Saat ini, secara global dipimpin oleh Samuel A. DiPiazza Jr, (52 tahun), seorang rekan ex-Coopers & Lybrand.
PricewaterhouseCoopers memberikan bidang jasa di banyak negara di antaranya:
• Audit dan Atestasi,
• Perpajakan, (perencanaan dan kepatuhan terhadap peraturan perpajakan)
• Konsultansi, termasuk pemantapan kinerja, transaksi dan penggabungan usaha serta akuisisi, dan manajemen krisis dalam berbagai area spesialisasi seperti jasa konsultansi akuntansi dan aktuarial
• Sekitar 82% dari penghasilan tahunan PwC disumbang oleh Eropa dan Amerika Utara, Eropa sendiri mencatat sebesar 45%. Jasa yang paling dominan adalah Audit dan Atestasi, yang menyumbang lebih dari 50% pendapatan PwC.
• Pada Maret 2005, klien audit PricewaterhouseCoopers termasuk empat dari sepuluh perusahaan publik terbesar di Amerika Serikat (ExxonMobil, Ford Motor Company, ChevronTexaco dan IBM). PwC juga mengaudit empat dari sepuluh perusahaan terbesar di Britania Raya (GlaxoSmithKline, Royal Dutch Shell, Barclays dan Lloyds TSB).
• Klien besar PwC lain di antaranya American International Group, Freddie Mac, Bank of America, JP Morgan Chase, Tesco, Unilever, dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences, yang melakukan tabulasi pemungutan suara untuk Academy Awards.
Klasifikasi umum menjadi auditor antara lain :
1. Memiliki pendidikan formal yang sesuai
2. Mengikuti pelatihan professional dalam bidang auditor
3. Memiliki pengalaman dalam audit min.3 tahun
4. Mempunyai kemampuan dalam penguasaan audit
5. Memahami istilah-istilah dalam audit
6. Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik
7. Memegang teguh prinsip,etika dan aturan-aturan dalam mengaudit
8. Bersikap professional dalam tugas
9. Mampu membuat laporan dalam tugas
10. Teliti pada saat melakukan audit
11. Mempunyai lisensi
Pengangkatan seorang pegawai negeri ke dalam Jabatan Fungsional Auditor dapat dilakukan melalui tiga mekanisme yaitu:
1. Pengangkatan pertama
2. Pengangkatan perpindahan
3. Pengangkatan inpassing
Selain harus memenuhi beberapa persyaratan administratif, seorang pegawai negeri yang akan diangkat ke dalam Jabatan Fungsional Auditor diharuskan untuk lulus Ujian Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor sesuai dengan jenjang jabatan yang akan didudukinya.
Klasif ikasi audit or berdasar pelaksana audit:
1. Audit ing Ekst ernal, suat u kont r ol sosial yang member ikan j asa
unt uk memenuhi kebut uhan inf or masi pihak luar per ush yang diaudit .
2. Audit ing I nt ernal, suat u kont r ol or ganisasi yang mengukur dan
mengevaluasi ef ekt if it as or ganisasi.
3. Audit ing Sekt or Publik, suat u kont r ol at as or ganisasi pemer int ah
yang member ikan j asanya kepada masyar akat
